Gaji Pemimpin Islam Kini dan Dahulu

2/12/2010 Sulis 0 Comments

Tanggal 5 Februari 2010, sekitar selepas Maghrib, kulihat di Metro Tv ada acara bincang-bincang, mungkin bisa dibilang debat, antara ICW dengan Mendagri mengenai gaji pejabat negara. Tema acara itu "Honor vs Gratifikasi".
Aku tidak ingin membahas tentang perbedaan definisi antara gaji, honor, dan gratifikasi, karena perdebatan tentang sistem mana yang paling benar dan tepat untuk diterapkan rasanya sulit untuk diambil suatu solusi yang nyata.

Masalah sistem gaji ini mengingatkanku pada sebuah artikel di
www.muslimdaily.net yang berjudul "Tahukah Anda Berapa Gaji Amirul Mukminin (khalifah)?"
Indonesia bukanlah negara Islam yang sesungguhnya yang menerapkan sistem Islam di dalam jalannya pemerintahan. Indonesia termasuk dalam OKI karena sebagian besar penduduknya beragama Islam, begitu pula sebagian besar para pemimpinnya. Jadi tidak ada salahnya mengulas tentang sistem gaji seorang khalifah yang merupakan pemimpin umat Islam dan membandingkannya dengan sistem gaji para pemimpin negara Indonesia ini yang sebagian besar beragama Islam.Aku hanya akan menampilkan beberapa kutipan yang terdapat pada artikel di www.muslimdaily.net karena aku sendiri belum melakukan penulusuran yang mendalam tentang permasalahan ini.


"Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat sehari sesudahnya dia (Abu Bakar RA) terlihat berangkat jalan ke pasar dengan barang dagangannya. Umar kebetulan bertemu dengannya di jalan dan mengingatkan dia bahwa di bahunya sekarang terpikul beban yang penuh kesulitan dalam kenegaraan, dan karena demikian itu mustahil baginya untuk mengejar bisnis bersamaan dengan memecahkan masalah negara. "Untuk mempertahankan hidup keluarga," jawab khalifah, dia (Abu Bakar_pen) harus bekerja. Para sahabat lalu berkonsultasi dan menghitung pengeluaran rumah tangga biasanya sehari-hari dan menetapkan gaji tahunan 2,500 dirham baginya, yang belakangan ditingkatkan 500 dirham sebulan. Pada saat wafatnya, dia mempunyai satu sprei tua dan seekor unta, yang merupakan harta negara. Ini pun dikembalikannya kepada penggantinya, Umar"
[Early Caliphate (Khulafa’ur Rasyidin), penulis Muhammad Ali; Penterjemah Imam Musa, halaman 62].

Alkisah pada suatu hari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz disediakan makanan oleh Istrinya yang beda dari biasanya. Saat itu ada sepotong roti yang masih hangat, harum dan wangi tampak roti itu begitu lezatnya hingga membangkitkan selera.
Sang Khalifah merasa heran dan bertanya pada Istrinya: “ Wahai Istriku dari mana kau memperoleh roti yang harum dan tampak lezat ini ? Istrinya menjawab “Ooh itu buatanku sendiri wahai Amirul Mukminin, aku sengaja membuatkan ini hanya untuk menyenangkan hatimu yang setiap hari selalu sibuk dengan urusan negara dan umat“.
“ Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini “ tanya Khalifah.
“ Hanya tiga setengah dirham saja, kenapa memangnya?“ jawab sang istri
“Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam perutku ini, agar aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT nanti “ jawab Khalifah, dan dilanjutkan pertanyaan lagi “ terus uang yang 3,5 dirham itu kau dapatkan dari mana ? “.
“Uang itu saya dapatkan dari hasil penyisihan setengah dirham tiap hari dari uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku, jadi dalam seminggu terkumpulah 3.5 dirham dan itu cukup untuk membuat roti seperti ini yang halalan toyyiban “ jawab istrinya.
“Baiklah kalau begitu. Saya percaya bahwa asal usul roti ini halal dan bersih “ kata Khalifah yang lalu menambahkan “ Berarti kebutuhan biaya harian rumah tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yg membuat kita mampu memakan roti yang lezat atas tanggungan umat “.
Kemudian Khalifah memanggil Bendahara Baitul Maal (Kas Negara) dan meminta agar uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham. Dan Khalifah berkata kepada istrinya “ saya akan berusaha mengganti harga roti ini agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi “.
Subhanalaah…Cerita ini benar-benar mengandung keteladanan dari seorang Khalifah atau Presiden pimpinan negara yang begitu kuat berprinsip dan berhati-hati bahwa apapun yang dimakan dan minum harus benar2 tahu asal usul nya bahwa semua itu didapat secara halal dan benar. sebagai khalifah dia juga tak mau menggunakan serta menghamburkan uang negara untuk kepentingan pribadi. kalau biaya rumahtangganya cukup 3 dirham sehari kenapa mesti 3.5 dirham. [saungweb.blogspot.com]

Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu bakar ra,”Saya ingin membeli sedikit manisan.” Abu Bakar menjawab,”Saya tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya.” Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan, saya akan mencoba untuk menghemat uang belanja kita sehari-hari, sehingga saya dapat membeli manisan itu.” Akhirnya Abu Bakar pun menyetujuinya. Maka mulai saat itu istri Abu Bakar menabung sedikit demi sedikit uang belanja mereka setiap hari. Beberapa hari kumudian uang itu pun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut.
Namun Abu Bakar berkata,”Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata uang tunjangan yang kita peroleh dari Baitul Mal itu melebihi keperluan kita.” Lalu Abu bakar ra mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan beliau telah dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.
[dpu-online.com]

”Utsman tak pernah mengambil dan menerima gaji sebagai khalifah dari baitulmal.
Setiap hari Jumat, Utsman berupaya untuk memerdekakan budak. Dia juga menjamin kehidupan janda dan anak yatim-piatu.”
[sylviagustin.myrepublika.com]


Dari ketiga kisah di atas menurut saya, yang paling jelas menyebut nominal
gaji adalah sumber yang pertama, yaitu 2,500 dirham setahun yang
kemudian menjadi 500 dirham per bulannya. Jadi saya lebih memilih bahwa
gaji khalifah sebesar 2,500 dirham setahun (atau jika dikonversi per
bulannya maka sebesar 208,33 dirham per bulan). Alasan saya karena yang
secara jelas menyebut nilai gaji adalah referensi yang pertama.
Sedangkan yang kedua dan ketiga tidak menyebut gaji namun uang belanja.
Jadi, aku menyimpulkan bahwa gaji khalifah adalah sebesar 208,33 dirham
per bulan – 500 dirham per bulan.

Menurut Wakala Nusantara,
yang memberikan informasi kurs nilai tukar Dinar-Dirham terhadap
rupiah, disebutkan bahwa 1 dirham adalah Rp. 29.842,- (data ini diakses
pada tanggal 12 Nov 2009 pukul 13.00an). Jadi jika kita konversi ke
dalam rupiah, maka gaji khalifah adalah berkisar antara Rp.
6.217.083,33 / bulan (208,33 dirham) - Rp. 14.921.000,- (500 dirham).

Gaji sebesar 6 juta – 15 juta rupiah sekilas memanglah sepertinya terhitung
besar. Namun jangan lupa bahwa itu merupakan gaji seorang Khalifah.
Dalam istilah sekarang, itu merupakan gaji seorang Presiden yang
merupakan jabatan tertinggi dalam suatu negara .

Khalifah berperan sebagai kepala ummat baik urusan negara maupun urusan agama. mekanisme pengangkatan dilakukan baik dengan penunjukkan ataupun majelis Syura' yang merupakan majelis Ahlul Ilmi wal Aqdi yakni ahli Ilmu (khususnya keagamaan) dan mengerti permasalahan ummat.
Hanya Khalifah yang mempunyai kewenangan membuat UU sesuai dengan hukum-hukum syara’ yang ditabbaninya (adopsi); Khalifah merupakan penanggung jawab kebijakan politik dalam dan luar negeri; panglima tertinggi angkatan bersenjata; mengumumkan perang atau damai; mengangkat dan memberhentikan para Mu’awin, Wali, Qadi, amirul jihad; menolak atau menerima Duta Besar; memutuskan belanjawan negara. [Wikipedia]

Tanggungjawab yang sangat besar yang dipikul seorang khalifah digaji
dengan uang sebesar 6-15 juta per bulan. Dan uang sebesar itu di zaman
beliau merupakan kisaran nominal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari
yang terjadi di kalangan masyarakat Muhajirin (UMR nya umat Islam saat
itu), artinya masyarakat juga berpendapatan sebesar itu setiap bulannya
secara umum. Bandingkan dengan gaji seorang Presiden Republik Indonesia
yang konon sebesar Rp. 62,7 juta / bulan, lebih dari 4-10 kali lipat
gaji seorang khalifah yang tanggungjawabnya lebih besar. Bahkan gaji
seorang khalifah Islam saja tidak melebihi gaji Wapres RI sebesar Rp.
42,1 juta; ketua KPK sebesar Rp. 36,0 juta; Ketua DPR sebesar Rp. 30,9
juta; Ketua MA sebesar Rp. 24,3 juta; atau setingkat pejabat tinggi
(menteri, jaksa agung, dan panglima TNI) sebesar Rp. 18,6 juta. [priandoyo.wordpress.com]
Gaji sebesar itu diberikan di tengah-tengah masyarakat saat rakyat jauh
dari kesejahteraan. UMR rakyat Indonesia saja tidak ada yang lebih besar
dari 2 juta rupiah per bulannya.
Namun, hanya dengan gaji sekitar 6-15 juta rupiah saja, khulafa’ur rasyidin
dan Umar II mampu menjaga wibawa negara dan membuat surplus negara
serta mengefektifkan pemerintahan dan yang terpenting bebas Korupsi
& Kolusi. Kas Negara pun karena saking banyaknya, hampir tidak ada
aliran dana keluar karena tidak ada rakyat yang miskin atau dililit
hutang atau pemuda yang takut menikah karena tidak punya harta.


Bandingkan
dengan Indonesia yang mencetak rekor negara terkorup Asia bahkan dunia.
Para pejabatnya tersangkut kasus korupsi.
Sering kita mendengar bahwa kasus korupsi terjadi karena kecilnya gaji para pegawai atau pejabat negara.
Oleh karena itu, gaji pejabat kemudian dinaikkan untuk mencegah korupsi.
Hasilnya, gaji naik korupsi tetap sama saja. Departemen-departemen yang
”miskin” ramai-ramai berebut mengajukan renumerasi untuk meningkatkan
gaji mereka sekian kali lipat yang konon juga dalam rangka mengurangi
korupsi. Toh, sama saja. Kinerja pejabat tetap saja penuh korupsi,
birokrasi belibet, dan tidak efektif. Kas negara selalu kosong bahkan minus a.k.a defisit.
dasar standar gaji yang dijadikan dasar penggajian khalifah adalah
besaran nilai belanja kebutuhan sehari-hari khalifah tersebut bukan
beratnya tanggungjawab atau prestasi apalagi sekedar penghalang agar tidak korupsi. 

Maka dari dasar hal inilah muncul pendapat bahwa gaji khalifah itu
didasarkan pada belanja sehari-harinya yang kemudian memunculkan
pendapat bahwa gaji Umar bin Abdul Aziz sebesar 2-3,5 dirham sehari
(60-105 dirham/bulan) sesuai belanja kebutuhannya. Sehingga jika
dirupiahkan maka gaji Umar tidak lebih dari 5 juta rupiah, yaitu antara
Rp. 1.790.520,- (60 dirham) – Rp. 3.133.410,- (105 dirham). Jika memang
benar gaji seorang Khalifah saja sebesar itu gajinya dengan prestasi
yang luar biasa hebatnya, lantas apalah artinya kita hari ini dengan
gaji besar namun sering menuntut kenaikan gaji tanpa peningkatan prestasi. Na’udzubillah.

Meskipun gaji khalifah sebesar itu, para khalifah tidak lantas kemudian
mengambil seluruh gaji itu. Mereka (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman
bin Affan dan Ali bin Abi Thalib serta Umar II) justru mengembalikan
kelebihan gaji atau sisa gaji yang mereka peroleh kepada Baitul Mal
(Kas Negara). Dalam arti lain, dengan gaji yang tidak besar itupun,
sang khalifah masih saja mengembalikan baik sebagian maupun
keseluruhannya kepada Kas Negara.


Download keseluruhan artikel "Tahukah Anda Berapa Gaji Amirul Mukminin (khalifah)?" di sini.


Semoga dapat menjadi renungan bagi kita semua.
Amin.

You Might Also Like

0 comments: