Kejanggalan Peristiwa G30S

2/06/2010 Sulis 0 Comments



Kalian kenal John Roosa? Aku tidak. Aku hanya tahu bahwa ada penulis bernama John Roosa. Nama John Roosa pertama kali kudengar saat aku melihat acara tv "Kick Andy". Saat itu acara menampilkan para penulis yang bukunya dibrendel(dilarang beredar) oleh kejaksaan. Ternyata walaupun Suharto sudah meninggal, akar gaya pemerintahannya masih kuat mengikat ya. John Roosa tidak hadir di acara itu, tapi buku miliknya tetap dibahas. Judul buku miliknya, "Dalih Pembunuhan Massal. Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto". 
Katanya buku ini dapat kita download dari internet secara gratis, dan ternyata memang benar gratiss. Aku mendapat bentuk pdf buku ini di Scribd.Meskipun penasaran dengan isi buku itu, aku hanya membaca sekitar 10 halaman saja malam itu. Bagian yang kubaca itu pun hanya pendahuluan saja. Namun walaupun hanya pendahuluan, penulis sudah memberiku pemikiran baru tentang hal-hal ganjil tentang G 30 S. Setelah membaca halaman demi halaman timbul pertanyaan,
"Mengapa aku dulu bodoh sekali?" Bodoh  karena setelah dipikir-pikir aku benar-benar tidak tahu Gerakan 30 September itu gerakan seperti apa? Yang kutahu tentang G 30 S hanyalah pembunuhan dan penangkapan beberapa jenderal angkatan darat. Mengapa peristiwa itu begitu wah..!? Maksudku peristiwa itu merupakan suatu kehilangan yang besar bagi Indonesia, tapi sebenarnya para penduduk dan masyarakat Indonesia tidak terancam serius khan? Tapi mengapa sebagian besar rakyat Indonesia memiliki trauma besar terhadap peristiwa itu?
Mungkin sebaiknya aku meralat kalimat sebelumnya. Sebagian besar rakyat Indonesia tidak trauma atas terjadinya G 30 S. Mereka justru trauma terhadap peristiwa sesudahnya. Penyebaran rasa takut dan benci secara luas. Pembunuhan massal. Kesimpulan itulah yang kutangkap dari keterangan yang kudapatkan dari kedua orang tuaku.
Setelah aku membaca beberapa halaman dari buku John Roosa itu, aku keluar dari kamar bergabung dengan adikku dan kedua orang tuaku yang sedang santai menonton televisi. Saat itu aku hanya bertanya "Ternyata saat G 30 S terjadi, masyarakat Indonesia tidak tahu apa-apa ya?" Ibuku menjawab "Ya, nggak tahu apa-apa. Tahunya lewat pengumuman dan huru hara terjadi sesudahnya." Berawal dari pertanyaan itulah perbincangan tentang G 30 S, penculikan besar-besaran, pembunuhan massal, dan PKI menjadi semakin hangat. Kedua orang tuaku, masing-masing menceritakan berbagai pengalaman yang dialami, diingat, dan yang dilihat saat itu. Anehnya yang diceritakan bukanlah kekejaman PKI yang dari dulu dicap sebagai dalang G 30 S, tapi berbagai teror yang dilakukan oleh tentara dan masyarakat sendiri kepada penduduk yang dicap sebagai anggota PKI. Cerita bagaimana ketika malam tiba banyak orang-orang yang diciduk, dibawa pergi secara paksa, dan tidak pernah kembali. Peristiwa itu terjadi pada dua orang paklek (paman) ibuku.  Ibuku masih ingat betapa banyaknya orang-orang yang dibawa dengan truk oleh tentara, tak pernah kembali. Sekolah ibuku dekat KODIM. Para pemuda pemudi juga tidak lolos dari pencidukan. Mereka ikut terbawa karena saat itu kebanyakan pemuda sudah ikut organisasi kepemudaan. Mungkin karena organisasi kepemudaan PKI cukup terkenal, jadi para pemuda ikutan disweeping. Para gadis ditelanjangi karena diduga memiliki cap kucing. Mungkin yang dimaksud adalah cap tanda keanggotaan organisasi.
Sedangkan saat kutanya orang tuaku tentang PKI, yang mereka ingat justru kesenian. Ya, kesenian. Bapak dan ibu selalu menceritakan betapa bagusnya kesenian hasil kreasi PKI. Jika Lekra (kurasa organisasi keseniannya PKI) datang ke desa dan menampilkan tariannya, penonton pasti membludak. Ibuku masih ingat beberapa baris lagu kreasi PKI yang isinya menyinggung tuan tanah yang memiliki tanah dimana-mana. Keaslian wajah PKI terus menjadi tanda tanya besar bagiku.
"Apa yang dipelajari para pengunjung museum adalah pelajaran moral sederhana: bahwa sejak kemerdekaan dan masa-masa selanjutnya, PKI bersifat antinasional, antiagama, agresif, haus darah, dan sadis. Museum itu tidak menawarkan penjelasan tentang komunisme sebagai ideologi yang menentang kepemilikan pribadi dan kapitalisme; tidak ada sejarah mengenai sumbangan PKI dalam perjuangan nasional melawan kolonialisme Belanda, atau kegiatan partai dalam mengorganisasi buruh dan tani secara damai."


Beberapa kalimat tersebut, kukutip dari buku John Roosa pada bagian paragraf yang membahas tentang Museum Pengkhianatan PKI.

Belasan tahun kita dicekoki pernyataan bahwa PKI jahat. Saat sekolah kurasa aku menerima pernyataan itu mentah-mentah, walaupun aku tidak merasakan kebencian terhadap PKI di hati. Bagaimana aku bisa benci? Mengenal PKI pun tidak. Mungkin beberapa pimpinan PKI ikut terlibat atau bersalah tapi bukan berarti semua anggota PKI bersalah khan?
Kadang kita manusia menerima begitu saja kebencian yang ditanamkan ke dalam pikiran kita, tanpa kita mau tahu sosok asli sesuatu yang kita benci itu.


Tambahan: Sudah melihat film "Where in the world is Osama bin Laden?", tontonlah film itu karena sungguh membuka mataku tentang kebencian di dunia. Film itu menceritakan tentang perjalanan seorang warga AS yang berusaha mencari tahu di mana Osama bin Laden berada. Tentu saja hasilnya sudah pasti, Osama bin Laden tidak ditemukan. Justru yang menarik dari film ini adalah bagaimana sebenarnya sikap dan pemikiran orang-orang yang ditemui sang "Pencari" tentang terorisme, AS, dan pemerintah mereka masing-masing. Keadaan dunia yang sesungguhnya tergambar jelas.
Film ini diakhiri dengan adegan lahirnya si buah hati sang "Pencari", yang menyiratkan harapan seluruh penduduk dunia, yaitu kondisi dunia yang aman dan nyaman untuk anak-anak kita. Mungkin itu yang seharusnya kita perjuangkan, dunia untuk anak cucu kita. Bukan memupuk rasa kebencian yang menguras hati dan pikiran kita.
Reblog this post [with Zemanta]

You Might Also Like

0 comments: